>
Pagi Hari di Ruang HD
Jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi aku harus bergegas membereskan barang-barang keperluan bapakku untuk di Rumah Sakit. hari ini, Rabu adalah hari jadwal cuci darah bapakku. Tidak seperti biasanya, saat ini bapakku kelihatan menderita sekali, nafasnya sesak seperti orang asma. Biasanya serangan seperti ini disebabkan karena kebanyakan minum air. Ya, begitulah, bagi kita yang sehat banyak minum air baik untuk kesehatan, namun bagi penderita gagal ginjal banyak minum sama saja dengan menenggelamkan diri ke dalam air karena ginjal mereka sudah tidak berfungsi maksimal untuk mengeluarkan air dan racun sisa metabolisme dari dalam tubuh. Tapi untuk kasus bapakku pagi ini bukan air yang menjadi penyebabnya, aku yakin pasti dari makanan yang dia makan. Benar, memang ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi orang-orang sepeti bapakku. Aku kurang yakin makanan yang menyebabkan, tapi ada satu yang kucurigai, es cincau, yang dimakan bapakku 2 hari yang lalu.
Sampailah kami berdua di Rumah Sakit, pukul 06.15, lumayan jauh jaraknya dari rumah sekitar 50 menit perjalanan. Kami berdua berboncengan naik sepeda motor karena aku belum lancar menyetir mobil. Setelah mendaftar di UGD dan mendapat surat pengantar cuci darah segera aku pinjam kursi roda untuk bapakku untuk menuju ke runa HD (Hemo Dialisis / cuci darah). Masih sepi rupanya, penjaga ruangan baru saja membuka pintu masuk ruangan itu dan dia mempersilahkan masuk kami berdua. Ternyata di dalam sudah ada seorang perawat, dia menyapa kami, Suster Ponco namanya dan manis wajahnya ketika dia tersenyum menyapa kami. Setelah mebantu bapakku naik ke tempat tidur aku segera minta izin pinjam tangki oksigen untuk bapakku. Kelihatannya bisa bernapas lebih lega setelah memakai oksigen itu. Aku duduk di sebelahnya, aku melihat ke seluruh ruangan. Ruangan HD ini seperti bangsal, berderet di dalamnya 8 tempat tidur yang masing-masing dilengkapi satu mesin HD. Rupa mesin ini seperti pompa bensin di SPBU hanya saja penuh dengan panel-panel dan selang-selang. Ternyata mesin-mesin sudah dinyalakan kulihat ada bagian yang berputar dan mereka berbunyi seperti printer yang sedang mencetak.

Tak seberapa datang pasien lainnya, kami saling menyapa, mengobrol, saling bercerita tentang kabar, bahkan ada yang curhat. Suasana di dalam ruangan ini berubah jadi hangat di pagi yang dingin ini. Kemudian masuklah dua orang perawat lainnya, sambil tersenyum ramah mereka menyapa semua penghuni ruangan ini dan mereka segera menyiapkan peralatan cucu darah. satu persatu pasien dipasangi selang di tangannya, disuntikkan ke dalam selang itu seperti cairan bening adalah zat anti pembeku darah, lalu selang itu disambungkan ke alat HD dan langsung darah mengalir ke mesin itu. Darah mereka disirkulasi, dari tubuh ke mesin, mesin keubuh begitu seterusnya sampai selesai proses ini selama 4 jam.Bapakku berkata, "mesin inilah pengganti ginjal bapak.". Luar biasa, ginjal yang hanya sebesar telapak tangan harus diganti dengan mesin yang besarnya seukuran dengan pompa bensin. Rupanya ginjal kita canggih juga, sayang kita hanya punya dua.Kulihat ada berbagai usia dari para pasien ini, ada yang sudah tua, ada juga yang masih muda, bahkan ada yang mengatakan anak berumur 13 tahunan pun ada, tapi dia tidak berada di jadwal cuci yang sama dengan pasien-pasien hari ini. Penyakit memang tak pernah pandang bulu, termasuk juga panyakit seperti gagal ginjal ini. Lalu ayahku minta aku menyuapinya. Ku ambil bekal yang kami bawa dari rumah lalu kusuapi ayahku. Ku lihat pasien lainnya juga sedang sarapan, "wah, kompak", kataku. Selesai menyuapi aku coba mengobrol dengan beberapa pasien dan para pendamping mereka yang biasanya istri atau anak mereka, ada juga yang datang seorang diri. Dari hasil ngobrol ternyata banyak juga penyebab datangnya penyakit ini. Memang ada yang kelainan genetik, infeksi penyakit, komplikasi, tapi yang paling banyak karena, aku mengatakannya ketidak tahuan dan ketidak sengajaan. Dorongan kebutuhan hidup yang semakin berat memaksa orang-orang ini bekerja melapaui batas ketahanan tubuhnya. Beberapa diantara mereka ada yang terlalu berlebihan menkonsumsi suplemen penambah energi dengan harapan dapat membantu mereka menghimpun tenaga lebih cepat guna memenuhi kebutuhan hidup. Wah wah, mereka ini sampai sebegitunya. Sambil mendengarkan cerita mereka aku berharap semoga ada pelajaran yang dapat ku ambil.